Sungai Penuh, SemestaJambi.co.id–
Harapan warga Desa Koto Baru, Kecamatan Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh untuk mendapatkan tembok penahan Sungai Batang Sangkir kembali mencuat. Setelah sepuluh tahun penantian, proyek infrastruktur vital ini belum juga terealisasi, meski ancaman longsor terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kepala Desa Koto Baru, Jon Afrizal, mengatakan bahwa permohonan pembangunan tembok penahan sungai telah berulang kali diajukan melalui berbagai jalur resmi.
“Setiap Musrenbang, baik di tingkat desa maupun kecamatan, selalu kami sampaikan. Semua dokumen lengkap, tapi hasilnya tetap nihil,” ungkap kades Koto baru.
Menurutnya, kondisi di bantaran Sungai Batang Sangkir kini semakin mengkhawatirkan. Erosi telah menggerus tebing dan mendekati area permukiman warga, bahkan mengancam kantor desa Koto Baru.
“Kalau tidak segera dibangun, bukan hanya rumah warga yang terancam amblas, tapi juga fasilitas publik seperti kantor desa,” tambahnya.
Pemerintah desa sempat melakukan penanganan darurat menggunakan dana desa, namun keterbatasan anggaran membuat hasilnya tidak maksimal. Penimbunan tanah dan pemasangan bronjong sementara belum mampu menahan derasnya arus saat musim hujan.
Kades Koto baru yang kerap di sapa Jon Padek menegaskan, pembangunan tembok penahan Sungai Batang Sangkir bukan hanya soal infrastruktur, melainkan menyangkut keselamatan warga dan keberlanjutan layanan publik.
“Keselamatan masyarakat harus jadi prioritas utama. Jangan tunggu bencana baru bertindak,” tega Jon Afrizal
Sementara itu, warga setempat mengaku terus dihantui rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur.
“Kalau hujan malam, kami tidak bisa tidur. Suara sungai deras sekali, dan tanah di belakang rumah mulai retak,” tutur Aisyah warga setempat.
Masyarakat berharap agar proyek tembok penahan Sungai Batang Sangkir bisa masuk dalam prioritas pembangunan tahun 2026 oleh Pemerintah Kota Sungai Penuh.
“Sudah terlalu lama kami menunggu. Semoga tahun depan pemerintah benar-benar merealisasikannya,” harap Kades.