Dampak Asap Karhutla Mengancam, Penderita ISPA Meningkat

Kabut Asap Menyelimuti Wilayah Kabupaten Kerinci Di Tengah Meningkatnya Kasus Ispa
Kabut Asap Menyelimuti Wilayah Kabupaten Kerinci Di Tengah Meningkatnya Kasus Ispa

 

Semestajambi.co.id, KERINCI — Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi jambi. Dampak dari kabut asap Akibat Karhutla Membuat penyakit ISPA Meningkat. di Kabupaten Kerinci. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, hingga minggu ke-34 tahun 2026 Sepuluh Penyakit Terbesar Akibat Karhutla dan peringkat teratas adalah ISPA.

Bacaan Lainnya

Angka tersebut menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat di tengah kondisi udara yang masih terdampak asap di sejumlah wilayah Jambi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten kerinci Hermendizal membenarkan bahwa dampak Karhutla Di berbagai wilayah sangat irasakan oleh masyarakat Kabupaten Kerinci.

“Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci menunjukkan, hingga minggu ke-34, ada Sepuluh Penyakit Terbesar yang diderita masyarakat kerinci, diare akut 60 orang, Suspek Demam Tifoid 15orang dan peringkat teratas adalah ISPA jumlah penderita telah mencapai 839 orang.”ungkap Kadinkes Kerinci Hermendizal.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat memperparah gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru atau gangguan pernapasan. Dinkes Provinsi Jambi sebelumnya juga mengingatkan kelompok tersebut agar mengurangi paparan asap ketika kualitas udara memburuk.

Kabut asap pun tidak hanya menjadi persoalan kesehatan. Aktivitas masyarakat ikut terganggu. Warga yang bekerja di luar ruangan tetap harus beraktivitas meski harus berhadapan dengan udara yang tidak nyaman.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berharap pemerintah bergerak lebih cepat melakukan pencegahan dan penanganan karhutla. Sebab, dampak asap tidak berhenti di lokasi kebakaran. Ketika asap terbawa angin, masyarakat di kawasan permukiman ikut merasakan dampaknya.

Pemerintah Kabupaten Kerinci bersama instansi terkait perlu memperkuat pemantauan titik rawan karhutla, mempercepat penanganan ketika muncul titik api, serta memastikan masyarakat memperoleh informasi kualitas udara secara terbuka.

Selain itu, fasilitas kesehatan di wilayah rawan juga perlu memastikan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan.

Dinkes Provinsi Jambi sendiri sebelumnya telah meminta kabupaten dan kota memetakan fasilitas kesehatan, terutama puskesmas yang berada di wilayah berisiko karhutla.

Karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas, pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan masyarakat.

Karena itu, angka 839 kasus ISPA di Kabupaten Kerinci hingga minggu ke-34 harus menjadi momentum untuk memperkuat pencegahan.

Masyarakat membutuhkan udara bersih dan rasa aman, sementara pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan ancaman karhutla tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar.

Jangan menunggu masyarakat semakin banyak jatuh sakit untuk bergerak. Ketika asap sudah menyelimuti permukiman, maka penanganan karhutla harus berjalan secepat mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *