TPS3R Dinilai Gagal, Warga Soroti Ancaman Lingkungan Saat Musim Hujan di Sungai Penuh

Tumpukan Sampah Di Tpa Dadakan Sungai Penuh Foto Rendi Pradeza
Tumpukan Sampah Di Tpa Dadakan Sungai Penuh Foto Rendi Pradeza

 

Sungaipenuh, Semestajambi.co.id – Program TPS3R Sungai Penuh dinilai gagal menjawab persoalan pengelolaan sampah di tingkat desa. Meski curah hujan saat ini masih relatif rendah, kekhawatiran warga terus meningkat seiring potensi datangnya musim hujan dengan intensitas tinggi yang dapat memperparah dampak lingkungan.
Sejumlah warga menilai, keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang dianggarkan hingga ratusan juta rupiah per desa tidak berjalan sesuai tujuan awal. Alih-alih menjadi solusi jangka panjang, TPS3R justru dinilai hanya sebatas bangunan fisik tanpa aktivitas pengelolaan yang nyata.

Bacaan Lainnya

Di lapangan, masih ditemukan TPA dadakan yang telah beroperasi selama bertahun-tahun. Sampah dibuang secara terbuka tanpa proses pemilahan maupun pengolahan. Akibatnya, bau menyengat, pencemaran lingkungan, serta ancaman penyakit kerap dirasakan masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, warga juga mengkhawatirkan potensi banjir saat hujan deras. Sampah yang menumpuk di saluran air dan sungai kecil dinilai menjadi pemicu utama tersumbatnya aliran air. Jika kondisi ini terus dibiarkan, risiko bencana lingkungan dinilai semakin besar.

Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sungai Penuh, Wahyu Rahman Dedy, yang sebelumnya menyebutkan bahwa seluruh TPS3R skala desa telah berjalan dan dilakukan monitoring secara rutin.
“Jika TPS3R diklaim sudah berjalan semua, lalu bagaimana menjelaskan TPA dadakan yang sudah ada bertahun-tahun? Monitoring seperti apa yang dilakukan?” ujar seorang warga dengan nada kecewa.

Menurut warga, lemahnya pengawasan menjadi indikator utama gagalnya fungsi TPS3R. Padahal, program ini dirancang untuk mengurangi volume sampah dari sumbernya sekaligus mencegah dampak lingkungan, terutama saat musim hujan.

Dengan anggaran yang besar, masyarakat menuntut evaluasi menyeluruh dan transparansi penggunaan dana. Warga juga mendesak DLH Kota Sungai Penuh untuk tidak hanya menyampaikan laporan administratif, tetapi benar-benar turun ke lapangan dan memastikan operasional TPS3R berjalan optimal.

Jika tidak ada langkah tegas, warga menilai TPS3R hanya akan menjadi proyek mahal tanpa manfaat nyata, sementara ancaman lingkungan dan kesehatan terus menghantui desa-desa di Kota Sungai Penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *