SEMESTAJAMBI.CO.ID | KERINCI — Kabut asap Kerinci dan Sungai Penuh dalam sepekan terakhir semakin mengkhawatirkan. Asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan, disertai aroma sangit yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi tersebut memicu perhatian aktivis lingkungan. Aktivis lingkungan setempat, Irwan Pulteng, mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi masyarakat, terutama anak-anak yang masih mengikuti pembelajaran tatap muka.
Irwan menilai pemerintah daerah perlu mempertimbangkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) apabila hasil pemantauan resmi menunjukkan kualitas udara tidak lagi aman bagi aktivitas di luar ruangan.
“Pemerintah jangan menunggu kondisi semakin parah. Kalau kualitas udara memang sudah tidak sehat berdasarkan hasil pemantauan, PJJ perlu dipertimbangkan demi melindungi anak-anak dari paparan asap,” ujar Irwan Pulteng.
Kabut asap membuat suasana di sejumlah kawasan Kerinci dan Sungai Penuh terlihat berkabut. Selain itu, aroma asap yang menyengat membuat sebagian warga merasa tidak nyaman ketika beraktivitas di luar rumah.
Pengendara juga perlu meningkatkan kewaspadaan karena asap dapat mengurangi jarak pandang pada kondisi tertentu.
Sementara itu, pemerintah dan instansi terkait perlu terus memantau perkembangan kualitas udara serta sumber munculnya asap. Langkah tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan.
Secara nasional, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dampak kesehatan akibat karhutla. Kementerian Kesehatan pada Agustus 2026 mengimbau masyarakat di wilayah terdampak menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Irwan mengatakan pemerintah daerah tidak cukup hanya melakukan langkah perlindungan sementara. Penanganan sumber asap juga harus menjadi prioritas.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memperkuat pemantauan titik api, mempercepat respons terhadap kebakaran, serta meningkatkan koordinasi dalam penanganan karhutla.
“Masker memang penting untuk mengurangi paparan asap. Namun, masyarakat juga membutuhkan kepastian bahwa sumber asap ditangani. Jangan sampai warga terus-menerus menghirup udara yang tercemar,” kata Irwan.
BMKG sebelumnya mencatat sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Jambi, dan menyebut kondisi musim kemarau dapat meningkatkan risiko karhutla. BMKG juga mencatat adanya operasi modifikasi cuaca untuk penanganan karhutla di Jambi pada akhir Agustus 2026.
Desakan penerapan PJJ muncul karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk.
Kementerian Kesehatan menyebut anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap karhutla. Partikel halus seperti PM2,5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Karena itu, Irwan meminta pemerintah daerah menggunakan data kualitas udara sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Kalau kondisi udara tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar tatap muka, pemerintah harus berani mengambil keputusan. Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Masyarakat kini menunggu langkah pemerintah daerah dalam menghadapi kabut asap Kerinci dan Sungai Penuh.
Selain memperkuat penanganan sumber asap, pemerintah diharapkan menyampaikan informasi kualitas udara secara terbuka dan memberikan imbauan yang jelas kepada masyarakat.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar saat kualitas udara memburuk. Warga yang mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat dianjurkan segera mendapatkan pertolongan medis.
Dengan demikian, penanganan kabut asap Kerinci dan Sungai Penuh membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi, baik untuk mengatasi sumber asap maupun melindungi masyarakat dari dampaknya.