Pesawat Hercules AS Mendarat Darurat BIM, Ini Penjelasannya.

Bandara Internasional Minangkabau
Bandara Internasional Minangkabau

 

PADANG, Semestajambi.co.id – Pesawat militer Amerika Serikat jenis Lockheed C-130T Hercules milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatera Barat, setelah mengalami gangguan mesin saat penerbangan internasional.

Bacaan Lainnya

Peristiwa Hercules AS mendarat darurat BIM ini sempat menjadi perhatian publik setelah data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat dengan callsign CONDOR5 melakukan pola terbang berputar (holding pattern) di wilayah perairan barat Kota Padang pada awal Juni 2026.

Menurut General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, pesawat tersebut sebenarnya telah melakukan pendaratan darurat pada 25 Mei 2026 sekitar pukul 17.56 WIB. Informasi mengenai kondisi darurat diterima dari Menara Pengawas Colombo yang melaporkan adanya gangguan pada mesin nomor tiga.

Hercules AS Mendarat Darurat BIM Akibat Mesin Mati

Dony menjelaskan bahwa salah satu mesin pesawat mengalami kerusakan sehingga pilot memutuskan melakukan pendaratan darurat di bandara terdekat yang memenuhi standar keselamatan internasional.

“Pesawat mengalami gangguan pada mesin nomor tiga sehingga diarahkan untuk melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Minangkabau,” ujarnya.

Selain itu, pihak bandara langsung mengaktifkan prosedur penanganan keadaan darurat. Sesuai regulasi penerbangan internasional, bandara wajib memberikan fasilitas pendaratan kepada pesawat yang menghadapi situasi darurat di udara.

Setelah mendarat dengan aman, pesawat Hercules tersebut dipindahkan ke hanggar untuk menjalani pemeriksaan teknis lebih lanjut agar tidak mengganggu aktivitas penerbangan komersial di BIM.

TNI AU dan Instansi Terkait Lakukan Pengawasan

Dalam penanganan kasus Hercules AS mendarat darurat BIM, pihak bandara berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk TNI Angkatan Udara, Imigrasi, Bea Cukai, dan Karantina.

Sebanyak 16 personel Angkatan Laut Amerika Serikat yang berada di dalam pesawat menjalani pemeriksaan administrasi dan keimigrasian sesuai ketentuan yang berlaku. Seluruh dokumen penerbangan, termasuk izin diplomatik (diplomatic clearance), dinyatakan lengkap.

Sementara itu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta turut memberikan jaminan selama proses perbaikan pesawat berlangsung di Padang.

“Keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. Setiap pesawat yang mengalami keadaan darurat berhak mendapatkan bantuan dan fasilitas pendaratan sesuai aturan internasional.”

Suku Cadang Didatangkan dari Luar Negeri

Kerusakan yang terjadi pada pesawat Hercules tidak mengharuskan penggantian mesin secara keseluruhan. Namun demikian, teknisi perlu mengganti salah satu komponen penting pada mesin nomor tiga yang mengalami gangguan.

Karena suku cadang tersebut tidak tersedia di Indonesia, pihak Angkatan Laut Amerika Serikat mendatangkannya langsung dari luar negeri. Setelah proses perbaikan selesai, pesawat menjalani uji terbang guna memastikan seluruh sistem berfungsi normal sebelum melanjutkan perjalanan.

Dengan demikian, aktivitas penerbangan yang sempat terpantau berputar di wilayah udara Sumatera Barat bukan merupakan operasi militer ataupun kegiatan pengintaian, melainkan bagian dari prosedur pengujian pasca-perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *