SUNGAI PENUH, Semestajambi.co.id – Polemik Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMA Negeri 2 Sungai Penuh memicu reaksi dari masyarakat. Sejumlah orang tua siswa bersama Ketua Lembaga Adat Pondok Tinggi, wakil ketua, ninik mamak, kepala desa, camat, serta tokoh masyarakat mendatangi sekolah tersebut untuk meminta penjelasan terkait banyaknya calon siswa dari wilayah Depati Payung, Pondok Tinggi, dan Sungai Penuh yang tidak diterima.
Kedatangan rombongan disambut oleh Wakil Kepala SMA Negeri 2 Sungai Penuh. Pertemuan berlangsung dalam suasana mediasi guna mencari solusi atas keluhan masyarakat yang menilai banyak putra-putri dari wilayah sekitar sekolah tidak memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Sungai Penuh.
Dalam pertemuan tersebut, masyarakat menyayangkan Kepala SMA Negeri 2 Sungai Penuh tidak berada di tempat saat mediasi berlangsung. Berdasarkan penjelasan pihak sekolah, kepala sekolah sedang berada di luar daerah sehingga tidak dapat menemui langsung rombongan masyarakat dan tokoh adat.
Para tokoh adat menyampaikan bahwa secara historis SMA Negeri 2 Sungai Penuh berdiri di kawasan tanah adat Pondok Tinggi. Pada awal pendiriannya, sekolah tersebut diharapkan menjadi tempat menempuh pendidikan bagi putra-putri dari Pondok Tinggi, Sungai Penuh, dan Dusun Baru.
Namun pada pelaksanaan SPMB tahun ini, menurut mereka, cukup banyak calon siswa dari wilayah pondok tinggi tidak diterima di SMA 2 Sungaipenuh.
Kondisi itu memicu kekecewaan para orang tua hingga meminta tokoh adat turun langsung untuk melakukan mediasi dengan pihak sekolah.
Ketua Lembaga Adat Pondok Tinggi, Febriandi Depati. berharap pihak sekolah maupun instansi terkait dapat memberikan penjelasan yang transparan mengenai mekanisme penerimaan siswa baru. Selain itu, mereka juga meminta adanya kebijakan yang tetap mengacu pada peraturan, namun memperhatikan aspirasi masyarakat di lingkungan sekitar sekolah.
“Kami datang bukan untuk mencari persoalan, melainkan memperjuangkan hak pendidikan anak-anak kami. Kami berharap ada solusi terbaik sehingga putra-putri dari Pondok tinggi, dapat memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Sungai Penuh,” ujar Ketu LAD Pondok tinggi.
Sementara itu, Kepala sekolah melalui Wakil Kepala bidang kurikulum SMA Negeri 2 Sungai Penuh Januharmen menyatakan, seluruh aspirasi masyarakat akan disampaikan kepada kepala sekolah setelah kembali dari luar daerah, sekaligus diteruskan kepada instansi terkait untuk menjadi bahan pembahasan sesuai ketentuan dalam pelaksanaan SPMB.
Masyarakat berharap mediasi tersebut menjadi langkah awal penyelesaian persoalan secara bijaksana. Mereka juga berharap kepala sekolah dapat segera menggelar pertemuan lanjutan dengan tokoh adat, pemerintah setempat, dan para wali siswa guna mencari solusi yang adil tanpa mengabaikan ketentuan yang berlaku.