Kominfo Kerinci Jangan Bungkam Soal Juri Award

File 0000000021588207b1f957b5655b4eab
File 0000000021588207b1f957b5655b4eab

 

Semestajambi.co.id, KERINCI – Kerinci Journalism Award 2026 yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Kerinci semakin membutuhkan keterbukaan. Di tengah ajakan kepada insan pers untuk berkompetisi memperebutkan total hadiah Rp18 juta, pertanyaan mengenai kualitas penyelenggaraan, kompetensi dewan juri, dan transparansi penilaian tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.

Bacaan Lainnya

 

Kominfo Kabupaten Kerinci harus memahami bahwa menyelenggarakan penghargaan jurnalistik bukan sekadar membuat pengumuman, membuka pendaftaran, menyediakan hadiah, lalu menentukan pemenang.

 

Apalagi, kompetisi ini membawa nama Pemerintah Kabupaten Kerinci dan mengatasnamakan apresiasi terhadap insan pers. Artinya, penyelenggara harus mampu menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki standar yang layak dihormati oleh komunitas jurnalistik.

 

Pertanyaannya sederhana: apakah Kominfo sudah memastikan bahwa orang-orang yang akan menilai karya wartawan benar-benar memahami profesi jurnalistik?

Kerinci Journalism Award 2026 menghadirkan kategori berita online dan video pendek. Kedua kategori tersebut membutuhkan kemampuan penilaian yang tidak bisa disamakan.

Menilai berita bukan sekadar membaca tulisan yang menarik. Ada proses verifikasi, akurasi, keberimbangan, kepatuhan terhadap kode etik, kekuatan data, dan keberpihakan pada kepentingan publik yang harus diperhatikan.

 

Demikian pula video jurnalistik. Kualitas visual saja tidak cukup apabila narasi lemah, fakta tidak terverifikasi, atau informasi yang disampaikan tidak akurat.

 

Karena itu, Kominfo wajib menjelaskan dasar pemilihan dewan juri. Pengalaman profesional, kompetensi, dan rekam jejak masing-masing juri harus menjadi bagian dari keterbukaan penyelenggaraan.

 

Jangan sampai wartawan diminta menyerahkan karya terbaik, sementara peserta tidak memperoleh informasi memadai mengenai siapa yang berhak memberikan penilaian.

 

Persoalan transparansi juga tidak boleh diabaikan. Publik perlu mengetahui pedoman teknis perlombaan, bobot penilaian, mekanisme penjurian, hingga prosedur apabila peserta mempertanyakan hasil kompetisi.

Selain itu, penyelenggara harus menjamin tidak ada hubungan atau kepentingan tertentu yang dapat memengaruhi objektivitas penilaian.

 

Jika seluruh proses telah disiapkan secara profesional, seharusnya tidak ada alasan untuk menutup informasi mengenai mekanisme penyelenggaraan yang memang layak diketahui peserta dan publik.

 

Keterbukaan justru menjadi kesempatan bagi Kominfo untuk membuktikan bahwa kompetisi ini benar-benar diselenggarakan secara independen dan kredibel.

 

Ada satu hal yang perlu diingat: pers bukan sekadar mitra publikasi pemerintah. Pers juga memiliki fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan.

Karena itu, ketika sebuah instansi pemerintah menyelenggarakan kompetisi jurnalistik, instansi tersebut juga harus siap menjadi objek kritik dan pertanyaan wartawan.

Jangan sampai semangat membangun kemitraan dengan media hanya terlihat ketika pemerintah membutuhkan publikasi positif, tetapi menjadi tidak nyaman ketika insan pers mempertanyakan transparansi kegiatan.

Kominfo Kabupaten Kerinci kini perlu menjawab secara terbuka: siapa dewan jurinya, apa kompetensinya, bagaimana standar penilaiannya, dan bagaimana independensi mereka dijamin?

Jangan meminta insan pers menghasilkan karya yang berkualitas jika penyelenggara sendiri belum menunjukkan keterbukaan mengenai standar kualitas yang digunakan untuk menilainya.

Kerinci Journalism Award seharusnya menjadi kebanggaan dunia pers di Kerinci, bukan justru menjadi sumber pertanyaan mengenai kredibilitas penyelenggaraannya.

Sebab, penghargaan jurnalistik yang kehilangan kepercayaan akan kehilangan makna, sebesar apa pun hadiah yang ditawarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *