FESTIVAL KOPI KERINCI JANGAN BERHENTI DI PANGGUNG

Img 20260920 Wa0012
Img 20260920 Wa0012

Semestajambi.co.id, KERINCI — Festival Kopi Kerinci 2026 resmi digelar di Lapangan M10 Kayu Aro, 19–20 September 2026. Pemerintah Kabupaten Kerinci membawa ambisi besar: mengangkat kopi lokal menuju pasar yang lebih luas, bahkan hingga panggung dunia.

Namun, di balik meriahnya festival, ada satu pertanyaan yang layak dijawab pemerintah daerah: seberapa besar dampak kegiatan ini benar-benar dirasakan petani kopi?

Bacaan Lainnya

Pertanyaan tersebut bukan untuk mengecilkan festival. Justru sebaliknya, karena Pemkab Kerinci sendiri menempatkan petani, pelaku UMKM, barista, komunitas dan pelaku usaha sebagai bagian penting dari ekosistem kopi. Festival juga dirancang menghadirkan seminar, kompetisi green bean, manual brewing, hilirisasi, business matching, pameran UMKM hingga field trip kebun kopi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci Jamal Penta Putra sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan perdana ini akan dievaluasi dan diharapkan dapat menjadi agenda tahunan.

Di sinilah pekerjaan rumah pemerintah sebenarnya dimulai.

Jika festival disebut sebagai sarana meningkatkan motivasi masyarakat bercocok tanam kopi dan meningkatkan nilai ekonomi, maka keberhasilannya tidak cukup diukur dari ramainya panggung, banyaknya stan atau meriahnya lomba.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah festival berakhir.

Apakah petani mendapatkan pasar baru? Apakah harga jual kopi meningkat? Apakah kualitas pascapanen membaik? Apakah ada kontrak bisnis yang benar-benar terealisasi? Dan yang paling penting, apakah pendapatan petani ikut meningkat?

Pemkab Kerinci sendiri menyatakan festival diarahkan mempertemukan potensi lokal dengan jaringan pasar dan industri yang lebih luas serta membuka peluang kerja sama bagi petani dan pelaku usaha.

Kopi Kerinci memang memiliki potensi besar. Tetapi potensi tidak otomatis menjadi kesejahteraan.

Petani membutuhkan lebih dari sekadar promosi. Mereka membutuhkan pendampingan budidaya, bibit berkualitas, penguatan pascapanen, akses pembiayaan, teknologi pengolahan, kepastian pasar dan hilirisasi.

Karena itu, Festival Kopi Kerinci seharusnya menjadi pintu masuk menuju program yang lebih konkret.

Jangan sampai kopi hanya harum selama festival, tetapi kembali sunyi ketika panggung dibongkar.

Apalagi tema yang diusung adalah membawa kopi Kerinci menuju panggung dunia. Target sebesar itu membutuhkan strategi berkelanjutan, bukan hanya agenda tahunan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *